Bagaimana Strategi dan Inisiatif Negara-Negara Berkembang Menghadapi Negara-Negara Maju dan Industri Baru dalam Peta Bisnis International
Sumber Gambar : Piabay.com

Bagaimana Strategi dan Inisiatif Negara-Negara Berkembang Menghadapi Negara-Negara Maju dan Industri Baru dalam Peta Bisnis International ?

Bagaimana strategi dan inisiatif negara-negara berkembang menghadapi negara-negara maju dan industri baru dalam peta bisnis international ? Yuk disimak jawabannya di bawah ini.

Jawaban Pertanyaan Bagaimana Strategi dan Inisiatif Negara-Negara Berkembang Menghadapi Negara-Negara Maju dan Industri Baru dalam Peta Bisnis International

Berkurangnya volume perdagangan karena kritis keuangan global khususnya berpengaruh pada ekonomi negara berkembang. Rerata negara berkembang tidak mempunyai dana dan infrastruktur mencukupi untuk menangani imbas kritis ekonomi dengan kontribusi program perangsang ekonomi dan mekanisme sosial yang berperan.

Bisakah perdagangan dunia yang bebas dan liberal menolong negara berkembang? Study Instansi Ekonomi Dunia Hamburg (HWWI) dan PricewaterhouseCoopers cari jawaban atas pertanyaan ini dengan konsentrasi pada Kenia, Tansania dan Uganda.

Salah satunya hasil penelitian mereka ialah: perdagangan lebih memajukan ekonomi jika memberikan keuntungan sebagian besar karyawan dan pekerja. Disamping itu, dibutuhkan stuktur negara yang konstan.

Harus ada pemerintah yang konstan dan kuat, berikut hasil penemuan khusus laporan HWWI dan PricewaterhouseCoopers. Masalahnya jika negara berkembang menjalankan bisnis dengan negara maju, ada selalu faksi yang kalah dan menang di negara berkembang. Profesor Matthias Busse mengajarkan di Rühr-Universität Bochum:

“Cuma jika ada pemerintahan yang kuat dan berperan, baru kita bisa menolong mereka yang tertindas karena globalisasi.”

Antara tiga negara sebagai konsentrasi riset HWWI, Kenia yang bisa dibuktikan paling konstan, walau negara Afrika itu digoncang kemelut politik saat pemilu presiden tahun 2007.

Hasil penemuan yang lain ialah infrastruktur tidak selamanya jamin kesempatan untuk perdagangan di negara berkembang. Busse khususnya mengomentari project infrastruktur yang dibuat tanpa gagasan periode panjang:

“Dahulu, konsentrasinya ialah membuat jalan, jembatan dan dermaga. Tetapi tidak ada yang pikirkan apa infratsruktur berikut yang diperlukan untuk pembangunan satu negara atau apa infrastruktur ini bermanfaat untuk integratif satu negara di ajang ekonomi global.”

Negara yang belum siap untuk berdagang pada tingkat internasional lebih konsentrasi pada export sumber daya alamnya. Karenanya, ekonominya gampang dikuasai kritis karena naik menurunnya harga misalkan untuk kapas, coklat dan gandum di pasar internasional.

Hasil penemuan ke-3 study PricewaterhouseCoopers dan Instansi Penelitian Ekonomi Dunia berkaitan usaha untuk meningkatkan perwakilan untuk kebutuhan bidang swasta. Dengan langkah ini, semakin banyak golongan masyarakat yang diuntungkan oleh perdagangan internasional. Pengokohan perhimpunan ekonomi dan kamar dagang menolong pembangunan jaringan yang menyambungkan aktor ekonomi, sebagai wakil kebutuhan barisan regional dan memberikan dukungan penentuan standard minimum di bidang ekonomi.

Salah satunya kritikan pada study berkenaan imbas perdagangan bebas dan liberal untuk Kenia, Tansania dan Uganda ialah jika dalam laporan ini tidak disorot jalinan dagang regional di antara ke-3 negara. Yang dilihat cuma jalinan dagang ke-3 negara Afrika ini dengan aktor pasar internasional.

Minimal, study Instansi Ekonomi Dunia Hamburg (HWWI) dan PricewaterhouseCoopers munculkan langkah berpikiran baru. Dahulu, jika berbicara berkenaan negara berkembang yang disorot ialah kerja-sama pembangunan atau perdagangan kata Profesor Matthias Busse:

“Karyawan kontribusi pembangunan meriset bagaimana instansi atau peraturan untuk politik pembangunan berperan, dari sisi politik dalam negeri. Beberapa ahli perdagangan cuma melihat faktor internasional, mereka cuma konsentrasi pada perdagangan. Sekarang, Aid for Trade menghadapkan ke-2 faktor ini.”

Study HWWI dan PricewaterhouseCoopers tidak tawarkan jalan keluar untuk pembicaraan Doha yang berhenti. Tetapi kemungkinan, laporan itu munculkan gagasan baru untuk perputaran pembicaraan WTO. (SPN)

Baca Juga : Gurita Bisnis Briptu Hasbudi Dari Tambang Ilegal Hingga Dugaan Narkoba

Pencarian Berdasarkan Kata Kunci

gula darah normalmanusia mengenal berapa aroma

Tinggalkan Balasan